Showing posts with label on air. Show all posts

Slogan tak orisinil?

Sekedar berbagi, kami mendapatkan komentar di Facebook mengenai slogan kami. Sebenarnya bukan slogan sih. Karena slogan utama kami adalah "Power of Communication". Namun sebagai variasi, kami juga menggunakan tagline lainnya, yang kami setel setiap pergantian acara. Bunyinya:

The first, and still, the only radio that matters. Volare 1034 FM.

Namun tampaknya ada yang kurang berkenan dengan kalimat tersebut.


Berhubung kami punya keinginan untuk selalu memperbaiki diri, akan sangat membantu kalau Bujang Dare punya informasi mengenai slogan/tagline radio di seluruh dunia. Atau, punya ide untuk sebuah kalimat unik yang berbeda dari yang pernah ada? 

Sementara ini, kami masih akan menggunakan yang ada :)


@_temi

Posted in , , | Leave a comment

Kapan #1 Volare Rock jadi Fotis Mini?

Ternyata terjadi penantian para penggemar Volare Rock, yang menduduki peringkat #1 bakal dibahas di Fotis Mini dan lagu-lagunya bisa mengudara dengan kerap sepanjang minggu.

Sayang, tampaknya harapan itu tidak akan terjadi.
Lho, kenapa?

Ayolah, semua juga tahu jawabannya, kan? Akuilah, musik rock itu bising di telinga!

musik rock = raungan + distorsi + (speed) = bising

Sementara, jika satu artis terpilih menjadi fokus sepekan, tentulah lagu-lagunya akan mengudara begitu sering sepanjang pekan, bisa pagi, siang, sore bahkan malam. Dalam sehari bisa lebih dari 6 kali. Sanggup? Yang bukan penikmat rock, belum tentu! ... dan memilih memindahkan gelombang radionya. Itu yang kami hindari.

Ya, tapi kan ada juga band rock lagunya slow...

Betul. Biasanya ada beberapa, namun tak semua artis/band memiliki lagu rock yang easy listening. Kami tidak ingin mengambil resiko. Lagipula, apabila Music Director kami menilai ada band rock yang lagunya asyik, cukup nge-pop dan mudah diterima oleh telinga kebanyakan pendengar, tentulah akan kami jejerkan bersama lagu-lagu lain di Volare Number One Sound. Ini berarti lagu tersebut memberikan kesempatan kepada si musisi/band untuk menduduki peringkat jawara dan otomatis bakalan muncul di Fotis Mini!

Problem solved! 

@_temi 
Foto

Posted in , , , | Leave a comment

Mereka datang untuk belajar...

Bujang Dare mungkin bertanya-tanya, kemanakah Rieda? Kok tidak pernah dengar lagi suaranya?


Ia memang sudah tak lagi bersiaran di Radio Volare sejak Agustus 2012 ini, tidak pula di Radio Primadona yang pernah secara rutin pula ia isi program-programnya. Sudah bosankah ia bersiaran? Oh, tentu saja bukan itu masalahnya. Justru Rieda adalah tipe orang yang jika punya waktu senggang, ingin menambah sebanyak-banyaknya jam siaran. 

Meminjam bahasa Rieda, ia pulang kampung. Bukan dalam rangka mudik, lho, ya. Melainkan untuk seterusnya menetap di Ciamis, tempat kelahirannya. Mungkin akan mencoba juga peruntungan bekerja di kota Bandung, namun yang pasti tidak lagi berdomisili di Pontianak. 

Satu lagi yang harus kami lepas kepergiannya bulan Agustus ini adalah Eel.


Dia adalah orang pertama yang kami anugerahi gelar "Listener of the Month" pada bulan Maret 2011 lalu berkat kesetiaannya mendengarkan Radio Volare, rajin berinteraksi dan tak segan memberikan kritik saran demi kemajuan kami. 

Tak cukup sampai di sana, berkat minatnya pada dunia menulis, membuat Radio Volare tertarik mengajaknya bergabung ke dalam tim jurnalis. Sekitar setahun malang melintang di jalan menghasilkan berita untuk pendengar, Eel bermaksud melanjutkan studinya ke kota Bandung, sekaligus mencoba peruntungan karir di sana.

Ada yang pergi, ada yang datang. Terhitung sejak bulan Juli 2012, Eri, yang punya nama lengkap Herimawardi bergabung dalam jajaran terdepan untuk berhadapan dengan pendengar, yakni penyiar, setelah sempat mencicipi serunya bersiaran di Volare selama menjadi "Listener of The Month" edisi Juni 2012. 



Eh, kok pakai celemek? Iya, soalnya Eri ini punya kedai makan dan terjun langsung mengelola sekaligus jadi tukang masaknya. Kita tunggu saja, apakah seperti saat memasak makanan, Eri mampu mengolah sajian di udara yang terdengar enak di telinga Bujang Dare :)

Mereka datang, apabila kemudian pergi, bukan masalah bagi kami. Pintu selalu kami buka lebar. Yang penting, Radio Volare bisa menjadi tempat untuk belajar, menimba ilmu, menjadikan mereka lebih baik dari sebelumnya, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Semoga :)



@_temi

Posted in , , , | 1 Comment

Jadwal Berputar Sangat Cepat



Oleh: @honeylizious

Setiap penyiar seakan dilahirkan sebagai penyiar program tertentu. Ada pula yang dari awal memang disiapkan untuk program khusus. Seperti saya dari awal memang disiapkan sebagai penyiar SODA GEMBIRA. Setiap kali suara saya mengudara semua sudah akan tahu program apa yang sedang mengudara di Radio Volare. Tetapi seiring berjalannya waktu dan perubahan jadwal serta penambahan program, akhirnya saya kebagian jatah untuk bersiaran di program yang lain.

Hari ini untuk pertama kalinya saya bersiaran di KERICAU PAGI. Mengudara 30 menit dari Senin hingga Jumat. Berhubung punggawanya Febi sedang ada kegiatan di luar kota, dengar-dengar di hutan. Semangat berjuang buat Febeb (panggilan sayangnya di Radio Volare) yang sedang menjalankan tugas dari kampusnya. Mirip dengan magang sebenarnya tetapi karena dia memilih untuk menyelesaikan magangnya di WWF tentu saja ke hutan bukanlah sesuatu yang mustahil. Malahan bisa jadi akan sangat sering terjadi.

Belum lagi Rieda yang hanya bersiaran di hari Sabtu sehingga jadwal CAKRAWALA dan REHAT KERJA-nya dibagikan ke beberapa penyiar lain. Tentu saja sebenarnya saya tidak akan mendapatkan jatah siaran di dua program ini. Berhubung Susedtya yang kebagian CAKRAWALA dan dia sendiri sedang sibuk dengan revisi TA-nya. Saya juga sering membawakan program ini untuk menggantikan Susedtya. Saya belajar juga untuk tidak terbawa warna SODA GEMBIRA di program yang lain. Meskipun suara saya tetap begini warnanya.

Jadwal REHAT KERJA diberikan pada Lisaragih yang memang ahlinya.

Beruntungnya sekarang punya penyiar baru. COWOK! Namanya Herimawardi. Dipanggil Eri diudara. Nah, dia sedang dilatih di program SODA GEMBIRA. Sehingga ketika saya harus bersiaran di CAKRAWALA, Sisi pun menjadi dapat teman untuk bersiaran. Iya, Sisi yang biasanya hanya siaran di program mingguan sekarang mendapatkan jadwal siaran di SODA GEMBIRA seminggu penuh.

Penyebab tambahan lainnya adalah Elis yang sekarang menjalani dua pekerjaan.

Kemudian siapa lagi yang mendapatkan jatah bersiaran meskipun dia di luar kota? Ada Diniehz yang harus kembali bersiaran di English Teletalk yang memang program asuhannya. Awalnya Rieda yang menjadi pengganti. Sekarang karena Rieda hanya bersiaran hari Sabtu, Diniehz harus kembali mengasuh program ini. Karena dia sendiri di luar kota, diterapkan sistem siaran tunda di program ini.

Untungnya sekarang ada penyiar baru. Sehingga SODA GEMBIRA tetap bisa mengudara dengan dua penyiar. Apalagi saya sudah tinggal di Radio Volare, di bekas kamar operator Primadona sebelumnya. Sehingga kapan saja dibutuhkan saya akan siap sedia.

Foto 

Posted in , , , , , | 2 Comments

Jadi "Listener of the Month", tak cukup sekedar "eksis"




Suatu hari di program TRAVO (Citra Volare) yang mengkhususkan diri untuk menerima kritik dan saran pendengar, masuklah sebuah pesan singkat berbunyi sebagai berikut:

LOTM Itu gimana si?Atau untuk teman terdekat crue R.Volare aja yg bs jadi LOTM.Krna LOTM LOTM volare jarang juga tu yg ikutan di berbagai acra yang ada di Volare.Pada hilang entah kemana,(jadiBingung) terimakasih atas jwbn nya

Baiklah, untuk pertanyaan pertama, apakah teman terdekat yang bisa jadi LOTM, sebaiknya asal usul pertemanan perlu diklarifikasi lagi. Teman di sini bukan berarti sobatnya Lisa di kampus, atau teman ngumpulnya Jerry misalnya. Hampir semua dari mereka yang terpilih menjadi "Pendengar Bulan Ini" alias Listener of the Month (selanjutnya disingkat jadi LOTM), justru mulai berteman dengan awak siar setelah mereka menjadi pendengar Volare.

Lho, bagaimana bisa?

Tentu saja bisa. Bermula dari mengambil hadiah kuis di Volare, misalnya, pertemuan dengan awak siar berlanjut pertemanan, seperti Juri. Mengomentari topik yang diangkat dalam siaran lewat Yahoo! Messenger, diteruskan kepada curhat soal pribadi, seperti Mahmudin. Rajin pesan lagu dan berkomentar di berbagai kesempatan, sehingga hampir semua penyiar mengenal seorang Angga. Senang mendengarkan suara penyiar di udara, berlanjut perjumpaan di studio saat mengantarkan gorengan misalnya, seperti Ilham. Sehingga, yang semula hanya sebatas penyiar dan pendengar, ketika berjumpa malah berlanjut menjadi kenalan antar pribadi, berteman baik seperti Iil, ikut berperan dalam drama "Dari Balik jendela Kost" seperti Sasa, bahkan bergabung dalam perusahaan menjadi jurnalis, seperti Eel!

Masih banyak contoh lainnya, yang tak bisa disebut satu persatu di sini.

Justru banyak juga teman-teman penyiar yang tidak kami pilih jadi LOTM. Lah, mendengarkan radio saja jarang, bagaimana bisa terpilih?

Lucunya, ada juga lho... yang tidak pede ketika ditawari jadi kandidat LOTM, padahal sudah memenuhi syarat!

Menjawab kebingungan mengenai "jarang yang ikutan acara yang ada di Volare, menghilang", kesibukan orang, siapa yang tahu? Misalnya Rhemon, yang berkuliah di ibukota, tentu saja tak bisa rutin mendengarkan apalagi berinteraksi, kecuali sedang berlibur. Tak bisa dipungkiri pula, masing-masing punya acara favorit yang berbeda-beda untuk disimak. Sehingga wajar jika namanya jarang disebutkan oleh penyiar di dalam acara request. Sedangkan untuk acara off air-nya, tentu tak bisa semuanya memaksakan hadir, ada yang sudah kerja, ada yang kuliah, ada yang sekolah. Apalagi Volare memang terhitung jarang membuat kegiatan di luar siaran.

Okelah, sekarang Bujang Dare merasa,
"Hey, aku kan udah jadi pendengar setia, rajin ikutan komen, rajin ikutan rikues, kok belum kepilih juga?"
Ada dua kemungkinan, bisa jadi nasib baik belum berpihak, atau ternyata ngga pas dengan kriteria lainnya yang selama ini memang tidak kami publikasikan secara gencar, misalnya:
  • Cuma mau berinteraksi jika penyiar tertentu saja yang bersiaran. 
  • Masih saja pesan lagu yang basi, ngga pernah tahu lagu-lagu yang masuk chart.
  • Bentuk interaksi hanya dalam bentuk pesanan lagu, tak lebih. Padahal, komentar masuk saat program interaktif sangat kami nantikan, apalagi kuis!
  • Tak punya akun jejaring sosial dan walaupun punya, ternyata tidak berteman dengan Volare 
Pssst, sebenarnya, selain yang dipromosikan di radio, ada satu manfaat utama yang bisa Bujang Dare dapatkan kalau jadi LOTM, lho. Yakni kesempatan untuk mengenal dunia radio siaran secara lebih dekat, bahkan membuka kesempatan untuk magang! 

Serius? Iya, serius.

Selama ini Bujang Dare mungkin hanya bisa mereka-reka, mengira-ngira bagaimana sebuah iklan radio dibuat, bagaimana jurnalis mencari berita, bagaimana penyiar menyiapkan bahan siarannya, bagaimana pengarah musik menyusun tangga lagu, dan lain sebagainya. Kami, khusus kepada LOTM, bersedia berbagi ilmu. 

Dengan senang hati kami akan memberikan kesempatan kepada Bujang Dare turun ke lapangan bersama Eel atau Isty untuk ketahui cara mencari, menulis hingga mengedit berita atau nongkrong bersama Poltak lepas siaran malam minggu untuk susun tangga lagu. Bukan cuma bisa ikut penyiar bersiaran, lho!

Jadi, apakah Bujang Dare LOTM berikutnya? 


@_temi
Foto: grantgoddess.blogspot.com

Lokasi: Pontianak, Indonesia
Posted in , , , | Leave a comment

Kenalan yuk, dengan penyanyi baru asal Pontianak, Indra Mustafa!

Sore tadi, studio Volare kedatangan artis pendatang baru, Indra Mustafa. Yang spesial, ternyata dia budakPontianak! Tak ada salahnya Bujang Dare berkenalan dengan dia dan karyanya. Berikut adalah informasi soal Indra, yang kami dapatkan dari rilis pers pihak label:
Industri musik Indonesia, tak lama lagi akan kedatangan penyanyi solo pria dengan nama Indra Mustafa. Indra begitu dirinya biasa disapa, dipercaya oleh sang pencipta lagu Bemby Noor, untuk membawakan karyanya yang bertajuk Curiga Demi Cinta (CDC).

Lagu yang bergenre pop mellow itu, sedang disiapkan penggarapan video klipnya yang berada dibawah konsep sutradara ternama Almarhum Noto Bgaskoro. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Om Noto begitu beliau disapa, telah menyerahkan konsep penyutradaraan kepada asistantnya yang akrab disapa Rully. So, penggarapan lagu tersebut, benar-benar dikerjakan penuh keseriusan dan istimewa, untuk memenuhi keinginan terakhir almarhum.

“Dua minggu sebelum wafat, kami sudah berdiskusi dengan Om Noto tentang konsep video klip. Kami sepaat untuk mebuatnya dengan penuh artistik dan menarik. Namun sayang sekali, beliau dipanggil lebih dulu oleh sag pencipta. Hingga akhirnya, saya dan tim Om Noto, sepakat untuk meneruskan cita-cita terakhirnya ini,ʼ kenang Indra yang begitu kehilangan sosok Om Noto.

Dibalik bayang-bayang tersebut, pria berdarah Pontianak ini, tetap optimis untuk membuat video klip sesuai dengan yang diinginkan olehnya dan juga almarhum. Selain itu, tentu saja persiapan matang dan keseriusannya untuk melempar single CDC ke belantika musik Indonesia.

Dengan berlatih vokal secara simultan oleh guru vokalnya Toni Muharram dan ditukangi aransemen musiknya oleh Yandi, lagu CDC seakin sempurna dibawakan oleh anak bungsu pasangan Letkol (Purn.) Mustafa Umar dan Nuraini ini. Penghayatan Indra dilagu tersebut benar-benar dapat dirasakan, sehingga hasilnya, begitu memuaskan.“Saya berlatih vokal sudah lama sekali. Dan saya sangat senang, hingga akhirnya bisa menelurkan single karya pencipta lagu terbaik seperti Bemby. Dengan Bimbingan Toni Muharram dan juga aransemen musik dari Yandi, saya dapat menghayati setiap lirik yang saya bawakan,” jelas Indra yang pernah bermain disinetron striping Liontin, Kembang Surga, Janji dan masih banyak lagi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Bemby. Bahwa lagu yang bercerita tentang paranoid atau kecurigaan seseorang terhadap pasangannya itu, benar-benar pas dinyanyikan oleh Indra, yang mempunyai warna vokal tebal dan berkarakter. “Saya khususkan lagu ini untuk Indra. Warna vokal dan juga penghayatan di lagu ini, benar-benar ada pada dirinya. Saya optimis, Indra akan membawa warna baru di inudstri musik Indonesia,ʼ tutur Bemby.Toni Muharram yang aktif sebagai coach vocal Indonesian Idol menilai, bahwa hari ke hari vokal Indra Mustafa semakin baik dan mampu berimprovisasi dengan bagus. Sehingga ia pun terus mendorong Indra, untuk melakukan take vokal di studio Senopati Jakarta Selatan.

“Kemampuan vokalnya sangat baik dan berkarakter. Sehingga, saya pun mendukung dan mensupport dirinya untuk bersolo karir dengan karya Bemby,” ucap Toni dalam sebuah kesempatan.

Harapan Indra, tentu saja tak beda dengan penyanyi pada umumnya, agar apa yang dipersembahkannya ini, bisa mendapatkan respon positif dari masyarakat luas. Bisa diterima dan dinikmati.

“Mudah-mudahan kerja keras saya dan juga usaha saya untuk bisa membawakan lagu ini (CDC) sebaik mungkin, bisa diterima secara luas oleh penikmat musik di Indonesia,ʼ harap Indra. So, kita nantikan Curiga Demi Cinta. Dan selaat datang Indra di industri musik Indonesia!

Seperti apa lagunya? Saksikan video di bawah ini:

Lokasi: Pontianak, Indonesia
Posted in | Leave a comment

Ayo, dukung finalis favorit Bujang Dare!



Informasi ini kami posting ulang dari www.volarefm.com, just in case ada yang cari informasinya ke sini :)



Akhirnya, setelah unjuk aksi bersiaran langsung di Volare pada hari Jumat, 17 Februari lalu, 5 finalis Volare Voice harus menunggu keputusan juri yang akan diumumkan 26 Februari mendatang. Namun, tak hanya juri yang punya suara, Bujang Dare pun kami beri kesempatan untuk memilih finalis favoritnya.
Caranya bagaimana?
Untuk pengguna twitter, silakan mention @radiovolare dan akun finalis favorit dengan menyertakan #VolareVoice. Bisa juga dengan RT tweet @radiovolare yang mengajak Bujang Dare untuk mendukung. Ini dia akun twitter para finalis:
  1. Elisabet Tening @elisabettening
  2. Febi Resiana @febicoociou
  3. Muhammad Irhamna @artiirhamna
  4. Dimas @hafizcech
  5. Novella Tantia Putri @ohnovella
Di Facebook, kunjungi tautan masing-masing finalis, dan berikan jempol Bujang Dare untuk dia. Di masing-masing tautan, Bujang Dare bisa mendengarkan bagaimana suara dan gaya mereka bersiaran. Tunggu apalagi? Kunjungi:
  1. Elisabet Tening
  2. Febi Resiana
  3. Muhammad Irhamna
  4. Dimas
  5. Novella Tantia Putri
Pungutan suara dibuka hingga Sabtu, 25 Februari 2012. Satu akun dihitung satu suara. Selamat memilih!

Lokasi: Pontianak, Indonesia
Posted in , , | 1 Comment

AMPLITUDO Goes to Campus & Volare Voice


Informasi ini kami posting ulang dari www.volarefm.com, just in case ada yang cari informasinya ke sini :)

Pernah dengar AMPLITUDO? Belum? Wah, sayang betul! Padahal banyak anak band Pontianak yang menanyakan bagaimana caranya kalau ingin lagunya disetel oleh Volare. Ngga mau kalah, dong sama Lemon Tea, Sidepony dan Avanindra :) Nah, sebelum bisa masuk ke playlist harian kami, musisi Pontianak (dan kota manapun di Indonesia) bisa unjuk gigi di acara ini. Baik dengan tampil secara live, maupun mengudarakan lagunya yang sudah direkam.
Ya, AMPLITUDO  adalah wadah khusus bagi musisi kota Pontianak untuk pertunjukkan hasil karyanya di bidang musik. Mengudara di Volare setiap Senin, pukul 8-9 malam bareng Galih dan Rama. Berhubung masih banyak yang belum mengetahui keberadaan program ini, yang sebenarnya bisa menjadi jalan untuk dikenal banyak orang, Volare hendak mengusungnya ke kampus dan mengundang musisi Pontianak untuk tampil di AMPLITUDO Goes to Campus.
Untuk bisa ikut serta, calon peserta hanya perlu memenuhi 2 syarat, memiliki lagu sendiri (minimal 2 buah) danmembayar biaya pendaftaran sebesar 50 ribu rupiah. Lantas siapa yang boleh ikut? Apakah hanya yang punya band saja? Tentu tidak. Bujang Dare yang kebetulan seorang solois, atau punya kelompok vokal, atau seorang instrumentalis, bahkan nge-DJ, juga boleh ikut! Instrumen dan peralatan pribadi boleh dibawa sendiri.
Berapa banyak band yang akan tampil? Berhubung keterbatasan waktu, kami hanya akan menerima 20 pendaftar pertama. Peserta yang batal ikut, biaya pendaftarannya hangus. Jangan keduluan yang lain, segera Bujang Dare pastikan muncul di ajang ini!
Dimana daftarnya? Silakan datang ke Radio Volare, Jl. Sumatera 28 Pontianak, pada jam kerja, pukul 09.00-16.00 untuk mendaftarkan diri Bujang Dare. Lebih cepat lebih baik, karena pendaftaran ditutup 14 Februari dan sudah harus tampil di pentas Auditorium Politeknik Negeri Pontianak keesokan harinya, Rabu, 15 Februari 2012. Ajak teman-teman hadir untuk menyaksikan aksi Bujang Dare. Gratis masuknya!
Lantas, kalau sudah tampil ada apalagi? Setiap musisi yang tampil akan kami berikan sertifikat penghargaan atas keikutsertaannya, dan mendapatkan jadwal untuk tampil di AMPLITUDO secara bergiliran. Yang pasti, kalau Bujang Dare punya materi bagus pada saat tampil di radio, lagunya bakal bisa masuk playlist harian Volare, bahkan masuk chart Indonesia 10! Bahkan kalau Bujang Dare sudah punya mini album yang siap untuk dipromosikan, bukan tak mungkin akan kami dukung sepenuhnya agar dikenal penikmat musik yang mendengarkan Volare!

Volare Voice
Dari namanya, Bujang Dare sudah tahu, bahwa kami mencari suara untuk Volare. Sang penyiar. Bermaksud mengulangi sukses tahun lalu, Volare kembali mengadakan audisi penyiar. Bujang Dare yang sudah pernah ikut tahun lalu maupun yang belum, boleh ikutan.
Syaratnya apa sih? Ini dia:
  • Berusia antara 16-35 tahun
Hah, cuma itu? Iya, memang cuma itu. Bujang Dare tinggal datang ke lokasi Volare Voice di Auditorium Politeknik Negeri Pontianak, Rabu, 15 Februari 2012, mulai pukul 8 pagi hingga selesai. Jangan kuatir, naskah siaran sudah dipersiapkan oleh panitia dan akan diperoleh di pintu masuk ruang audisi. Bujang Dare juga tidak perlu bawa surat lamaran, CV, dan tetek bengek lainnya. Cukup tampil dengan percaya diri :)
Memangnya berapa orang sih yang dicari Volare? Kami tak punya target khusus. Minimal 1 orang. Tiga orang juri Volare Voice akan menilai kemampuan para peserta secara objektif. Tahun lalu, kami berhasil mendapatkan 1 pilihan juri, dan satu favorit pendengar plus 1 orang lagi kami ajak bersiaran setelah audisi beberapa buan berlalu karena yang bersangkutan mampu menenuhi kebutuhan kami. Jadi, tak ada patokan angka.
Berapa lama audisi berlangsung? Sekitar 5 menit. Bisa lebih cepat, bisa lebih lama, tergantung ketertarikan juri pada kemampuan peserta. Penilaian dan wawancara lebih mendalam akan kami lakukan nanti kepada finalis. Jangan kuatir, audisi dilakukan tertutup, tidak perlu grogi ditontoni peserta lain.
Dimana daftarnya? Bujang Dare bisa datang langsung ke lokasi audisi mulai pukul 8 pagi untuk mengambil urut antrian. Lebih awal lebih baik. Bujang Dare juga bisa mendaftarkan di kantor Radio Volare, Jl. Sumatera 28 Pontianak, pada jam kerja, pukul 09.00-16.00. Mungkin masih ada yang mau ditanyakan ke panitia, silakan saja. Ini tak pakai bayar, ya.
Masih kurang jelas? Silakan mention @radiovolare di twitter, atau posting pertanyaan di wall Facebook Volare, atau tuliskan di bagian komentar di bawah ini, akan kami jawab dengan senang hati :)

Lokasi: Jalan Jenderal Ahmad Yani, Indonesia
Posted in , , , | 2 Comments

11 Film top 2011


Top 11 versi Putri


1. Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)
Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 memiliki nada penceritaan yang menyerupai bagian awal kisahnya – yang sekaligus membuktikan bahwa Harry Potter and the Deathly Hallows adalah sebuah kesatuan penceritaan yang unik sekaligus akan memberikan efek emosional yang lebih mendalam jika diceritakan dalam satu bagian utuh.
Melanjutkan tepat di bagian dimana The Deathly Hallows – Part 1 berakhir – Harry Potter (Daniel Radcliffe), Ronald Weasley (Rupert Grint) dan Hermione Granger (Emma Watson) baru saja menguburkan Dobby yang terbunuh, The Order of the Phoenix berada dalam keadaan yang kacau balau, dan Voldemort (Ralph Fiennes) baru saja menemukan tongkat sihir terkuat yang pernah ada, The Elder Wand – ketiga sahabat tersebut harus melanjutkan perjalanan mereka dalam menemukan sisa dari horcrux (kepingan jiwa Voldemort) guna membantu usaha mereka untuk melemahkan kondisi Voldemort sehingga lebih mudah untuk dikalahkan.
Anda harus menempatkan diri Anda di posisi Steve Kloves, penulis naskah seri petualangan Harry Potter yang telah mengadaptasi seluruh karya J. K. Rowling (kecuali Harry Potter and the Order of the Phoenix, 2007). Untuk Harry Potter and the Deathly Hallows, Kloves harus mengadaptasi sebuah buku setebal lebih dari 700 halaman menjadi dua buah film yang berdurasi total hampir sepanjang 5 jam. Bukan hal yang mudah, tentu saja, karena setiap halaman Harry Potter and the Deathly Hallows dipenuhi berbagai detil cerita yang cukup kompleks. Mau tidak mau, banyak dari bagian cerita tersebut yang harus dibuang dan tidak digunakan dalam versi filmnya. Hal inilah yang mungkin membuat beberapa karakter terkesan memiliki peran yang kurang begitu mampu ditonjolkan atau beberapa adegan yang terasa berjalan terlalu singkat.
Pujian besar tentu saja harus disematkan pada David Yates yang semenjak mengarahkan Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007) selalu berhasil menanamkan kedalaman jalan cerita dan visual yang mengagumkan pada franchise ini. Kerjasamanya dengan sinematografer, Eduardo Serra, juga semakin mengukuhkan tampilan gambar seri Harry Potter and the Deathly Hallows sebagai seri Harry Potter dengan penampilan gambar yang terbaik di antara seri lainnya. Komposer Alexander Desplat juga semakin menambah elegan penceritaan Harry Potter and the Deathly Hallows, membawakan tingkatan emosional yang lebih dalam namun tetap terhindar dari kesan sentimentalitas yang berlebihan.
The Deathly Hallows – Part 2 memberikan sedikit perbaikan dari seri sebelumnya dengan menghadirkan banyak adegan dan visual berintensitas tinggi. Namun secara keseluruhan, Harry Potter and the Deathly Hallows adalah sebuah seri akhir yang mampu menjawab setiap ekspektasi penontonnya akan sebuah akhir dari salah satu seri petualangan terbaik yang pernah hadir di layar lebar.
 
2. Kungfu Panda
Bujang Dare  yang telah menggemari Po dan rekan-rekannya di Kung Fu Panda (2008) kemungkinan besar akan dapat dengan mudah jatuh hati dengan kisah yang disajikan dalam Kung Fu Panda 2, walaupun hal tersebut sama sekali tidak menjadi sebuah pernyataan yang dapat menggambarkan bahwa seri kedua film ini memiliki kualitas yang setara dengan pendahulunya. Penulis naskah, Jonathan Aibel dan Glenn Berger, yang kembali menulis naskah cerita Kung Fu Panda 2d engan bantuan revisi dari Charlie Kaufman, sepertinya tidak ingin memberikan sebuah perubahan drastis pada jalan cerita film ini. Jika Kung Fu Panda mengisahkan mengenai perjalanan Po untuk membuktikan dirinya pada dunia dengan berlatih dan menguasai ilmu beladiri kung fu, maka Kung Fu Panda 2 secara sederhana hanya mengisahkan mengenai sebuah tantangan yang dihadapi Po untuk membuktikan kemampuan kung fu yang ia miliki. Untuk bersaing dengan film-film produksi Disney/Pixar yang seringkali akan membuat hati penontonnya tersentuh, Kung Fu Panda 2 juga mengisahkan sekelumit mengenai masa lalu Po dan pencarian dirinya akan identitas dirinya yang sebenarnya.
Pun begitu, Kung Fu Panda 2 masih mampu hadir dengan beberapa momen yang cukup menyenangkan untuk disaksikan. Mengisi kedataran jalan cerita yang dihadirkan, sutradara debutan Jennifer Yuh Nelson kemudian memolesnya dengan deretan adegan aksi para karakternya yang dihadirkan dengan durasi yang cukup panjang. Walaupun tidak menawarkan sentuhan teknologi yang spektakuler, pewarnaan terang dan sentuhan teknologi 3 dimensi di beberapa bagian berhasil membuat adegan-adegan aksi ini tampil cukup memukau. Tata musik karya Hans Zimmer dan John Powell juga berhasil dalam menambah aliran energi di setiap adegan yang membuat Kung Fu Panda 2 semakin terasa lebih hidup.
Selain karakter suara Gary Oldman dan Michelle Yeoh yang cukup dapat dikenali dan mampu menambah variasi warna dalam perjalanan kisah Kung Fu Panda 2, tidak banyak hal yang dapat dikatakan dari jajaran pengisi suara film ini. Mereka yang masih dapat mentolerir kehadiran suara Jack Black di telinga mereka tentu tidak akan memiliki masalah besar ketika vokal Black menguasai hampir di setiap adegan. Kehadiran beberapa karakter baru – yang diantaranya diisi vokalnya oleh Jean Claude Van Damme, Dennis Haysbert maupun Danny McBride – tidak mampu memberikan suatu tambahan berarti bagi Kung Fu Panda 2 mengingat karakter mereka yang begitu minimal dan memiliki deretan dialog yang sama sedikitnya dengan deretan dialog yang dimiliki Jackie Chan, Seth Rogen, Lucy Liu, David Cross dan Dustin Hoffman.

3. Drive
Dengan naskah yang ditulis oleh Hossein Amini (Shanghai, 2010), Drive berkisah mengenai kehidupan seorang pemuda (Ryan Gosling) yang menjalani kehidupan kesehariannya sebagai seorang mekanik di sebuah bengkel milik Shannon (Bryan Cranston) dan di saat yang sama juga memiliki sampingan sebagai seorang pemeran pengganti di berbagai film Hollywood serta terkadang juga menggunakan kemampuannya yang mengagumkan untuk mengendarai kendaraan bermotor untuk membantu berbagai komplotan perampok dalam menjalankan kejahatan mereka. Pemuda tersebut, yang disepanjang Drive hanya disebut sebagai The Kid, adalah seorang sosok yang tenang, fokus, tidak banyak bicara serta penuh dengan pemikiran mendalam atas setiap pekerjaan yang ia lakukan.
Yang berhasil membuat Drive mampu tampil memikat penontonnya adalah keintiman yang terjalin antara pengarahan Winding Refn dengan naskah cerita yang dihadirkan oleh Amini. Keintiman tersebut kemudian berhasil diterjemahkan dengan sangat sempurna oleh pengarahan Winding Refn terhadap para jajaran pemeran film ini. Ini dapat dilihat dari minimnya dialog yang hadir di film ini. Drive lebih banyak menawarkan adegan aksi daripada deretan dialog antara karakter-karakter yang berada di dalam jalan cerita. Pun begitu, hal ini tidak mengganggu beberapa adegan krusial yang memang membutuhkan chemistry lebih hangat. Lihat saja adegan dimana karakter The Kid yang baru saja pulang dari menghabiskan waktu bersama Irene dan Benicio. The Kid dan Irene terlibat dalam sebuah ‘dialog romansa’ yang sama sekali tidak dihadirkan melalui rentetan dialog, melainkan melalui tatapan mata dan ekspresi mendalam yang dikeluarkan kedua pemeran karakter tersebut. Pengarahan kelas atas tersebut yang menjadikan Drive tidak hanya sebagai sebuah film aksi belaka, namun mampu turut bekerja secara personal bagi penontonnya.
Mendukung naskah cerita yang hadir dengan kuat, karakter-karakter yang diletakkan dalam jalan cerita Drive juga mendapatkan eksplorasi yang begitu sepadan dengan peran mereka dalam jalan cerita. Karakter The Kid merupakan sebuah penggambaran atas sosok pahlawan klasik yang tenang, tidak banyak bicara namun mampu memberikan sebuah pengaruh luar biasa lewat setiap determinasi dan tindakan yang ia ambil. Karakter tersebut mampu dihadirkan begitu kompleks namun tetap bersahaja sehingga dapat dengan mudah menggali hubungan emosional dengan penontonnya. Hubungan emosional tersebut semakin kuat ketika karakter The Kid dipertemukan dengan karakter Irene yang mengeluarkan sisi romansa seorang The Kid. Drive tidak menawarkan deretan adegan romansa yang menohok. Namun lewat dialog dan ekspresi yang berhasil dikeluarkan, berbagai adegan romansa yang hadir mampu tetap tampil intim.
Tidak hanya pada karakter utama. Karakter-karakter pendukung mendapatkan penggalian karakter yang begitu baik. Tidak ada satupun karakter pendukung yang hadir hanya dengan peran minimal dan kurang berarti. Setiap karakter yang hadir mampu diberikan peran yang mendalam dan saling berpengaruh satu sama lain. Dukungan kuat dari kemampuan akting para pengisi departemen akting Drive jugan semakin membuat kehadiran setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini menjadi begitu kuat. Mulai dari Albert Brooks, Bryan Cranston, Oscar Isaac, Ron Pearlman, Christina Hendricks hingga Carey Mulligan menghasilkan chemistry yang erat satu sama lain dan tampil begitu meyakinkan.
Selain dukungan naskah dan jajaran pemeran yang tampil begitu kuat, Winding Refn juga berhasil mengemas Drivedengan nuansa ‘80an yang begitu kental yang ia hadirkan lewat pemilihan warna visual yang lembut serta deretan lagu dan musik yang hadir di sepanjang film. Drive juga tetap tidak melupakan akarnya sebagai sebuah film aksi brutal kelas atas dengan menghadirkan deretan adegan penuh kekerasan yang akan mampu membangkitkan adrenalin setiap penontonnya. Drive adalah sebuah perpaduan antara cara penceritaan artistik kelas atas dengan jalan cerita dan tata produksi hiburan yang kemudian menghadirkan sebuah tingkat kualitas akhir yang begitu mengesankan. Cerdas!
   
4. Transformer: Dark of the Moon
Dengan perantaraan narasi dari Optimus Prime (Peter Cullen), Transformers: Dark of the Moon memulai kisahnya dengan membawa para penontonnya kembali ke awal tahun 1960-an dimana pihak Amerika Serikat dan Uni Sovyet saling bersaing untuk dapat mendarat ke permukaan bulan terlebih dahulu. Persaingan tersebut ternyata tidak hanya terjadi semata karena mempertahankan ego besar dari masing-masing negara. Sebuah pesawat luar angkasa yang berasal dari Cybertron – planet dimana para Transformers berasal – dan membawa sebuah penemuan yang dapat mengakhiri peperangan antara Autobots dan Decepticons jatuh di permukaan bulan. Jatuhnya pesawat luar angkasa tersebut ternyata dapat dideteksi oleh pihak militer Amerika Serikat, yang kemudian secara rahasia meluncurkan misi untuk menyelidiki hal tersebut ke bulan guna mencegah agar pihak Uni Sovyet mendapatkannya terlebih dahulu. Di kemudian hari, berbagai material yang dibawa oleh pesawat luar angkasa asal Cybertron tersebut justru akan memicu perang besar antara Autobots dan Decepticons di atas muka Bumi.
Kembali ke masa saat ini, karakter utama dari franchise Transformers, Sam Witwicky (Shia LaBeouf), dikisahkan telah lulus dari masa kuliahnya, sedang tidak memiliki pekerjaan dan berusaha setengah mati untuk mencarinya, telah melupakan kisah kasihnya dengan Mikaela Banes (Megan Fox) yang dikisahkan memutuskan dirinya serta mendapati dirinya telah berada di atas ranjang dengan seorang wanita yang sama (atau terkadang malah lebih) panasnya dengan Mikaela, Carly Spencer (Rosie Huntington-Whiteley), yang berstatus sebagai kekasihnya saat ini. Sam kemudian menemukan sebuah fakta bahwa Megatron dan Decepticons semenjak lama telah melakukan misi rahasia untuk membunuh setiap orang yang terlibat dalam perjalanan luar angkasa yang dilakukan pihak Amerika Serikat dan Rusia untuk meneliti pesawat luar angkasa Cybertron. Tentu, Sam kemudian melaporkan temuannya ini pada Optimus Prime. Penemuan tersebut kemudian membuka sebuah tabir rahasia lain, bahwa beberapa pihak sedang berusaha untuk meneruskan ras bangsa planet Cybertron dengan memanfaatkan umat manusia di Bumi sebagai korbannya.

5. Mission imposible
Mission: Impossible – Ghost Protocol dibuka dengan adegan penyelamatan yang dilakukan oleh agen Jane Carter (Paula Patton) dan agen Benji Dunn (Simon Pegg) terhadap agen Ethan Hunt (Tom Cruise) yang sedang ditahan di sebuah penjara di Rusia. Namun, misi untuk mengeluarkan Ethan dari penjara tersebut bukanlah satu-satunya misi yang harus dilaksanakan oleh ketiga agen tersebut. Oleh pimpinan Impossible Missions Force, Ethan ternyata ditunjuk untuk memimpin Jane dan Benji untuk menemukan seorang teroris asal Rusia, Kurt Hendricks (Michael Nyqvist), yang berniat untuk mewujudkan adanya perang nulir antara Amerika Serikat dengan Rusia. Sayangnya, Ethan dan kelompoknya kemudian terjebak dalam sebuah perangkap yang membuat mereka justru dijadikan tersangka dan IMF akhirnya ditutup pengoperasiannya oleh pemerintah Amerika Serikat.
Pun begitu, Ethan tidak mau menyerah begitu saja. Dengan bantuan Menteri Pertahanan Negara Amerika Serikat (Tom Wilkinson), yang kemudian memperkenalkan Ethan pada seorang analis intelijen, William Brandt (Jeremy Renner), yang nantinya akan turut bergabung dalam kelompok yang dipimpin oleh Ethan, Ethan akhirnya memulai rentetan misinya dalam menemukan Hendricks dan mencegahnya dari memicu peraang nuklir antara dua negara adikuasa di dunia. Jelas bukanlah sebuah misi yang mudah. Sebelum dapat menemukan Hendricks, Ethan dan teman-temannya harus menemukan kode pemicu tenaga nuklir tersebut terlebih dahulu yang kini sedang berada di tangan Sabine Moreau (Léa Seydoux), seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai seorang pembunuh bayaran dengan tingkat kemampuan membunuh yang sangat menakutkan.
Mereka yang telah hafal dengan cara pengarahan Brad Bird seperti yang ditunjukkannya pada The Incredibles kemungkinan besar tidak akan merasa terlalu penasaran dengan cara Bird mengarahkan Mission: Impossible – Ghost Protocol. Sama seperti yang dilakukannya pada The Incredibles, Bird menghadirkan deretan adegan aksi yang begitu mengagumkan pada Mission: Impossible – Ghost Protocol. Tidak sekedar adegan aksi biasa, Bird mampu menghadirkan adegan-adegan aksi tersbeut dalam tingkatan intensitas yang begitu tinggi sehingga penonton akan dijamin dapat merasakan ketegangan penuh setiap kali adegan aksi tersebut hadir di dalam jalan cerita.
Namun, Bird bukanlah Michael Bay yang menghadirkan deretan adegan aksi dan ledakan tanpa mampu mengolah jalan ceritanya dengan lebih mendalam. Bird adalah seorang sutradara yang mengutamakan kualitas jalan cerita film yang ia arahkan. Atas dasar itu pula, jalan cerita Mission: Impossible – Ghost Protocol tetap mampu tampil memikat, berisi dan kadang cenderung berhasil tampil emosional. Walau melakukan modernisasi cerita dalam kapasitas yang tinggi, Bird juga tetap tidak lupa untuk tetap menjaga beberapa unsur nostalgia yang dimiliki oleh seri cerita franchise Mission: Impossible yang ia lakukan lewat pemilihan berbagai peralatan canggih yang digunakan karakter Ethan dan kelompoknya dalam memburu karakter Kurt Hendricks. Yang paling memiliki nuansa nostalgia tentu saja penggunaan berbagai topeng yang menyamarkan wajah asli mereka ketika mereka sedang berada dalam penyamaran. Selain itu, alat-alat berperan karakter Ethan dihadirkan sangat modern, canggih dan akan mampu membuat kagum setiap penontonnya.
Jadi… apakah Mission: Impossible – Ghost Protocol akan menjadi misi terakhir yang akan dilaksanakan oleh karakter agen Ethan Hunt? Menilai berdasarkan ending film ini, tidak jelas akan menjadi jawaban pasti. Namun, dengan apa yang berhasil diraih oleh Brad Bird dalam debut penyutradaraannya dalam sebuah film live-action ini, Mission: Impossible – Ghost Protocol masih mampu membuktikan bahwa film ini masih mampu berbicara banyak jika berada di tangan seorang sutradara yang mengerti bagaimana cara bersenang-senang yang tepat dengan material yang ia miliki. Tom Cruise sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah seorang aktor yang dapat diandalkan. Jajaran pemeran yang memikat, humor yang cerdas dan kemudian berpadu dengan deretan adegan aksi yang menegangkan membuat Mission: Impossible – Ghost Protocol, dengan mudah, menjadi film aksi terbaik di sepanjang tahun 2011! Bravo, Brad Bird!
   
6. Fast Farious 5: Rio Heist
Fast Five (atau juga dikenal dengan Fast and Furious 5: Rio Heist). Kembali disutradarai oleh Justin Lin yang telah mengarahkan dua seri ini sebelumnya, The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2009) serta Fast and Furious (2009), Fast Five kembali membawa seluruh jajaran pemerannya kembali dari beberapa seri sebelumnya – termasuk pasangan Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O’Connor (Paul Walker) namun tanpa kehadiran Leticia Ortiz (Michelle Rodriguez) yang karakternya harus tewas di seri sebelumnya – sekaligus memperkenalkan seorang karakter baru bernama Luke Hobbs yang diperankan oleh Dwayne Johnson yang kehadirannya jelas dilakukan untuk menyegarkan kembali kehadiran sisi action dari franchise ini.
Dengan naskah yang kembali ditulis oleh Chris Morgan, yang juga menulis naskah cerita dua seri franchise ini sebelumnya untuk Justin Lin, Fast Five mengisahkan mengenai pasangan Brian O’Conner (Walker) dan Mia Toretto (Jordana Brewster) yang setelah berhasil kabur dari kejaran pihak yang berwajib di akhir seri Fast and Furious kini tinggal bersama di Rio de Janeiro, Brazil. Sambil menunggu kedatangan Dominic Toretto (Diesel), Brian dan Mia setuju untuk membantu sahabat Dominic, Vince (Matt Schulze), dalam menjalankan rencananya untuk mencuri beberapa mobil yang ternyata dimiliki oleh Hernan Reyes (Joaquim de Almeida), yang dikenal sebagai pimpinan gangster paling ditakuti di Rio de Janeiro. Dibantu dengan Dominic yang akhirnya muncul di tengah-tengah aksi, tindakan ini jelas memicu Reyes untuk mengerahkan anak buahnya dan membunuh Dominic dan rekan-rekannya.
Dominic dan Brian sendiri menemukan bahwa benda yang paling diincar Reyes dari mobil-mobil tersebut adalah sebuahchip yang berisi seluruh data kekayaan dan kejahatan Reyes yang tersimpan di salah satu mobil. Penemuan chiptersebut kemudian memberikan ide bagi Dominic dan Brian untuk melakukan sebuah perampokan yang terakhir kalinya sebelum mereka benar-benar berhenti dan akhirnya hidup dengan tenang. Di saat yang sama, pemerintah Amerika Serikat sendiri mengirimkan agen Luke Hobbs (Johnson) untuk melacak keberadaan kawanan Dominic dan menahan mereka. Sebagai seorang agen yang tidak pernah gagal dalam tugasnya, Hobbs telah bertekad untuk menemukan Dominic dan rekan-rekannya walau dirinya harus menempuh berbagai cara untuk melakukannya.
Kunci dari keberhasilan Fast Five sendiri terletak pada naskah ceritanya yang harus diakui mampu tersusun lebih rapi dari naskah cerita beberapa seri franchise The Fast and the Furious sebelumnya. Walau menggunakan deretan karakter dalam jumlah besar, Morgan tetap memfokuskan Fast Five pada hubungan yang terjalin antara tiga karakter utama Dominic-Brian-Mia dan meminimalisir kehadiran kisah-kisah tambahan yang berasal dari karakter-karakter pendukung di film ini. Hasilnya, selain dari jalan cerita yang lebih jelas dan fokus, penonton dipastikan akan memiliki waktu lebih banyak untuk mencerna berbagai tampilan adegan aksi yang disajikan Justin Lin – yang jelas merupakan bagian paling esensial dari sebuah franchise yang memang tidak pernah mengutamakan kehadiran jalan cerita serta dialog yang cerdas dari naskah ceritanya.
Tetap menggunakan formula yang sama dan deretan karakter yang telah begitu familiar, Fast Five terbukti mampu tampil lebih cemerlang dari seri-seri The Fast and the Furious sebelumnya dengan menghadirkan naskah cerita yang lebih berfokus pada tugas utama yang akan dijalani daripada kisah pribadi para karakternya. Naskah cerita tersebut kemudian mampu dieksekusi dengan ritme cerita cepat yang terjaga dengan baik serta tata produksi yang mampu mendukung kehadiran deretan adegan aksi yang lebih banyak dan lebih spektakuler. Fast Five jelas akan mampu memenuhi ekspektasi setiap orang akan franchise ini: drama yang sederhana dan minimal namun ditimpali dengan kehadiran deretan aksi yang maksimal.
   
7. The Mechanic 
The Mechanic adalah sebuah film action murni yang kembali menempatkan aktor asal Inggris, Jason Statham, dalam elemen terbaiknya: sebuah film action no brainer dimana ia dapat memamerkan otot sekaligus otaknya dalam memerankan seorang karakter tangguh, tak kenal kata takut namun tetap merupakan seorang yang sensitif ketika berhubungan dengan kehidupan pribadinya. Benar, Statham telah memainkan karakter tersebut berkali-kali semenjak namanya mulai menanjak dalam The Transporter(2002). Namun harus diakui, setelah sekian tahun berlalu, rasanya tak ada bintang action yang mampu tampil dengan daya tarik yang lebih kuat dari Statham di setiap filmnya.
The Mechanic sendiri merupakan film yang di-remake dari film berjudul sama yang dirilis pada tahun 1972 dengan bintang Charles Bronson, seorang bintang action lainnya yang sangat populer di masanya. Mengisahkan mengenai Arthur Bishop (Statham), seorang pembunuh bayaran, yang sedang membantu seorang pemuda, Steve McKenna (Ben Foster), untuk melupakan dendam yang dipendamnya pada seseorang yang telah tega untuk membunuh ayahnya, seorang pembunuh bayaran senior bernama Harry McKenna (Donald Sutherland). Tentu saja, Arthur sama sekali tidak akan menyinggung fakta bahwa ialah yang sebenarnya telah melakukan pembunuhan tersebut kepada Steve.
Naskah yang sangat familiar, dan setiap penonton mungkin telah dapat dengan mudah menebak bahwa keputusan Arthur untuk melatih Steve menjadi seorang pembunuh bayaran adalah sebuah keputusan yang akhirnya akan menempatkan dirinya sendiri dalam bahaya. The Mechanic bergerak ke arah tersebut, namun penulis naskah Lewis John Carlino dan Richard Wenk cukup cerdas untuk mengisi masa sebelum penonton mencapai titik tersebut dengan memasukkan berbagai tugas pembunuhan yang harus dihadapi kedua karakter utama sekaligus dijadikan sebagai sarana dimana kedua karakter tersebut mendapatkan pendalaman karakter.
Sutradara, Simon West (When a Stranger Call, 2006), melakukan pekerjaan yang cukup baik dalam menyusun rentetan adegan aksi yang terdapat di film ini. Disajikan dengan cara yang brutal, yang beberapa diantaranya terkadang cukup menyakitkan untuk dilihat, adegan-adegan aksi inilah yang menjadi nyawa The Mechanic, khususnya ketika film ini berhasil menawarkan beberapa trik baru yang mungkin belum pernah disaksikan di beberapa film lain yang ber-genre sama. Namun, deretan adegan aksi tersebut bukanlah sajian utama dari The Mechanic. Dua karakter utama yang saling bekerjasama – namun penonton tahu mereka saling mencurigai setiap gerakan satu sama lain – adalah daya tarik utamanya.
Statham masih menggunakan daya tarik yang sama dengan apa yang pernah ia tunjukkan dalam berbagai karakter yang pernah ia perankan di film sebelumnya. Begitu seringnya melihat Statham memerankan tipe karakter yang serupa membuat perannya di film ini terasa sangat dapat dinikmati.
 

8. The Descendants 
Menerima kenyataan memang kadang tidak semudah mengucapkannya. Itulah yang dirasakan Matt King (George Clooney) saat ia menemukan bukti bahwa selama ini istrinya memiliki hubungan dengan pria lain. Apalagi saat itu, istri Matt sedang dalam keadaan koma setelah kecelakaan yang terjadi sebelumnya.
Dari luar hidup Matt King memang terlihat sempurna. Dengan istri dan dua orang anak serta tanah luas yang diwariskan leluhurnya, rasanya tak ada lagi yang kurang dari hidup Matt. Suatu ketika, Elizabeth (Patricia Hastie), istri Matt mengalami kecelakaan di laut dan mengalami koma. Matt terpaksa harus mengambil alih tugas Elizabeth mengurus dua anak mereka.
Ini bukan urusan mudah. Dua putri Matt, terutama Alexandra (Shailene Woodley), benar-benar sulit diatur. Hampir saja Matt menyerah saat ia dikejutkan kabar kalau Elizabeth selama ini ternyata berselingkuh. Mau tak mau Matt harus menghadapi kenyataan pahit ini. Ia lantas mengajak kedua putrinya menemui seorang broker bernama Brian (Matthew Lillard) yang kabarnya adalah orang ketiga dalam rumah tangga Matt. Di saat yang sama, Matt masih harus menghadapi tekanan untuk menjual tanah warisan yang selama ini ia kelola.(kpl/roc)


9. The Artist
Dalam 20 menit pertama, film “The Artist” akan membuat Anda menyengir kegirangan. Meskipun hampir tanpa dialog, hitam-putih, dan layar 4:3 (tidak ada layar lebar di sini), ini adalah film yang menjadi bahan pembicaraan di Cannes, dan bintangnya berhasil mendapatkan anugerah Aktor Terbaik.
Film ini seolah membawa dunia kita tenggelam ke dalam resesi yang mendalam. Hal yang sangat ironis bahwa sebuah film yang dibuat selama masa Depresi Besar, dimana semuanya serba mahal, sehingga harus menangkap imajinasi sendiri. Sebuah ironi, saya yakin, juga tidak hilang pada diri sutradara Michel Hazanavicius, karena ini adalah film yang sangat mengerti. Kepercayaan diri film ini sungguh mengagumkan, baik dalam kemampuan untuk “menjual” keberadaannya sendiri, maupun dalam hal memanipulasi harapan kita sebagai pemirsa.
Film dibuka dengan sebuah teriakan dari George Valentin (Jean Dujardin), “Saya tidak akan bicara!”
Dikemas dalam sebuah setting layaknya film dari akhir 1920-an, dengan penonton berpakaian mewah,  dengan sarung tangan putih, ada yang tertawa terbahak-bahak, ada pula yang diam dan tenang. Film ini terasa asing dan aneh, bagi indera modern kita. Ini adalah film bisu tentang film bisu.Dan George Valentin adalah bintang film bisu ini yang dalam film ini merupakan bintang Hollywood. Dia aktor yang lucu, ramah dan selalu bercitra positif. Tapi seiring dengan kemajuan tahun 1920, dan  mulai datangnya modernisasi, karirnya mendadak jatuh ketika ia menolak untuk merangkul teknologi baru. Kemudian bisakah kesempatan pertemuan dengan rising star, Peppy Miller (Berenice Bejo) menjadi jalan baginya untuk keluar dari keputusasaan?
Meskipun tanpa dialog, tetapi bukan The Artist adalah film tanpa suara. Bahkan film ini menggunakan suara yang mengesankan, dengan tidak adanya dialog. Adegan mengesankan ialah dimana ketika Valentin mengangkat gelas dan menaruhnya kembali, dan itu membuat kebisingan pertama dalam film. Kebisingan itu membuat Valentin dan kita tentu akan terkejut, yang menjadi salah satu dari kejutan di sepanjang film.
Film ini menampilkan pertunjukan yang bernada sempurna, dengan Dujardin memetakan penurunan Valentin dengan kehalusan. Ia sendiri juga seorang master komedi fisik, dengan beberapa adegan brilian tampil bersama anjing. Berenice Bejo yang memerankan Peppy Miller tampak manis, menarik, dan segar. Dan Anda mungkin akan dapat menerka bahwa akan terjadi semacam chemistry antara ia dan Valentin.


10. Midnight in Paris 
Gil (Owen Wilson) adalah seorang penulis naskah film Hollywood yang sukses tetapi dia malah tidak puas dengan pekerjaannya itu. Dia lebih menginginkan menjadi seorang penulis novel. Bersama tunangannya, Inez (Rachel McAdams), mereka berada di Paris untuk suatu acara bersama orang tua dan teman-teman Inez.
Apa yang dilakukan Gil selama di Paris sangat bertolak belakang sekali dengan tunangannya, Gil hanya berkutat dengan novelnya yang tak kunjung selesai, Inez selalu berpesta dari satu tempat ke tempat lain. Gil yang sangat terobsesi dengan segala hal yang berbau sastra dan lukisan dan ingin tinggal di Paris, Inez yang hanya ingin tinggal di Malibu dan menganggap Paris hanyalah sebuah kota yang indah dan tempat yang pas untuk berpesta, akhirnya mereka berdua terpaksa untuk berpisah, dan mengurus kepentingan mereka masing-masing selama di Paris. Cara pandang mereka sangat berbeda sekali.
Menjadi penulis novel adalah keinginan yang sangat mengobsesi Gil sampai-sampai tiap malam dia bermimpi (berfantasi, ber-“time travel” atau apapun lah) berkunjung ke suatu tempat dan di tempat itu dia bertemu dengan para penulis novel idolanya. Yang paling penting, dia bertemu dengan seorang wanita “ilusi” yang menarik hatinya. Tiap malam, Gil selalu menghabiskan malamnya dengan wanita itu dan mendiskusikan novelnya dengan para penulis novel idolanya. Obsesi yang kuat akan hal-hal yang ia temui dalam ilusinya itu membuat Gil pun tidak bisa membedakan dunia fantasi dan dunia nyata..
Film yang ditulis dan diarahkan oleh sineas senior Hollywood Woody Allen ini merupakan sebuah film yang bergenre fantasy romantic comedy. Tapi tak seperti romcom biasanya, film ini lebih mempertontonkan keindahan-keindahan Paris, mulai dari keindahan bangunan-bangunan sampai pesta glamour a la Paris.
Film yang juga bergenre fantasy ini, otomatis hanya memposisikan Owen Wilson yang berperan sebagai Gil dalam tokoh sentral dari cerita film ini. Selama kurang lebih satu setengah jam, penonton akan disuguhi dengan potret-potret keindahan Paris diwaktu siang dan malam serta gilanya kehidupan fantasy si "freak" Gil yang dalam dunia ilusinya sendiri berkunjung ke beberapa tempat dan para penulis novel zaman 1920-an yang jadi idolanya sekaligus obsesinya.


11. Hugo 
Tak ada yang tahu kalau selama ini Hugo Cabret (Asa Butterfield dan ayahnya (Jude Law) tinggal di relung-relung di balik dinding stasiun kereta api kota Paris. Untuk sementara waktu semuanya berjalan baik-baik saja namun situasi jadi memburuk saat ayah Hugo tiba-tiba menghilang. Kini Hugo harus menjalani hidupnya sendiri sambil memecahkan misteri yang sepertinya sengaja diwariskan sang ayah.
Ayah Hugo meninggalkan banyak barang aneh, termasuk robot yang sepertinya tidak bisa berfungsi dengan baik. Sambil berusaha menghidupi dirinya sendiri, Hugo mulai mencoba mengumpulkan beberapa petunjuk untuk mengungkap misteri yang diwariskan padanya ini. Jelasnya itu bukan usaha mudah karena Hugo juga harus tetap merahasiakan di mana selama ini ia tinggal.
Usaha Hugo mulai menemui titik terang saat ia bertemu Isabelle (Chloë Grace Moretz). Entah kenapa tapi Hugo begitu percaya pada gadis cilik ini. Dan yang lebih aneh lagi, sepertinya Isabelle adalah bagian dari misteri yang sepertinya tak terpecahkan ini. Tentu saja ini bukan tanpa risiko. Kalau Isabelle sudah tahu di mana Hugo tinggal, artinya, bisa saja rahasia ini juga bakal diketahui orang lain.
Martin Scorsese akhirnya mulai merambah dunia 3D, dunia yang selama ini tak mau disentuh sebagian besar sutradara kawakan. Mungkin karena pengaruh kesuksesanAvatar namun itu tak terlalu jadi masalah karena Scorsese pastinya tak akan sepenuhnya bertumpu pada teknologi ini.
Ada banyak nama besar yang bisa dijadikan jaminan film-film bermutu. Selain Scorsesesendiri, masih ada nama Chloë Grace Moretz, Ben Kingsley, dan Sacha Baron Cohen yang jadi pendukung film ini. Bahkan Johnny Depp pun ikut terlibat lewat rumah produksinya yang bernama Infinitum Nihil. Kisahnya sendiri diadaptasi dari novel karya Brian Selznick oleh penulis naskah John Logan.



@susedtyo

Posted in , , | Leave a comment
Radio Volare. Powered by Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.