Sarasehan Bahasa bagian 3

Tulisan ini bukan cerpen, bukan pula trilogi. Hanya tulisan sederhana yang saya bagi menjadi 3 seri. Ada baiknya teman-teman yang baru mampir di tulisan ketiga ini, membaca tulisan bagian 1 dan bagian 2 juga :D

Pada sarasehan bahasa hasil kerja sama antara Radio Volare dengan Balai Bahasa Kalimantan Barat ini, yang bersemangat bukan hanya moderator *uhuk* dan pembicaranya. Para pesertanya juga sangat bersemangat loh. Apalagi ketika tau yang mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab akan mendapatkan hadiah dari LA Light Community sebagai salah satu sponsor. Hihhihi.

Walaupun begitu, saya yakin para peserta yang kemarin ajukan pertanyaan dan pendapat mereka ikut aktif karena memang ingin bertanya. Bisa dilihat dari pertanyaannya yang menarik dan menambah ilmu para peserta lainnya.

Peserta Sarasehan

Seperti yang ditanyakan oleh Dony 'Jerry' Prayudi dari Khatulistiwa TV Pontianak: "Mengapa ketika mengajukan lamaran beasiswa, persyaratan dalam kualifikasi Bahasa Inggris justru lebih tinggi daripada Bahasa Indonesia, lebih menekankan pada nilai TOEFL yang tinggi?". Kurang lebih begitu pertanyaannya. 

Pertanyaan ini dijawab oleh Kak Lubna. Persyaratan tersebut diberlakukan karena tempat pelamar mengajukan beasiswa adalah negara yang membutuhkan kemahiran berbahasa Inggris, sehingga perlu mendapatkan hasil TOEFL yang sesuai standar internasional. Di Indonesia juga ada tes setara TOEFL, namanya UKBI, singkatan dari Uji Kemahiran Bahasa Indonesia.

Dalam sesi tanya jawab dan diskusi, Dony Prayudi alias Koko Jerry juga sempat menyampaikan bahwa istilah asing yang biasa dipakai di media lebih 'ear-catching' *haduh ini aja saya udah campur kode ._.* daripada jika menggunakan istilah dalam Bahasa Indonesia. Seperti penggunaan kata 'hacker' yang lebih dikenal banyak orang daripada kata 'peretas'. 

Memang, menurut para peneliti dari Balai Bahasa yang menjadi pembicara, membiasakan penggunaan istilah Bahasa Indonesia inilah yang menjadi tugas berbagai elemen: mulai dari para guru di sekolah, para pekerja media, serta pemerintah tentunya. 

Bahkan di beberapa negara seperti Jepang, Australia, Portugis, dan Belanda, Bahasa Indonesia juga diajarkan kepada para penutur asing. Kalau dalam Bahasa Inggris kita mengenal TESOL atau Teaching English for Speakers of Other Languages, maka dalam pengajaran Bahasa Indonesia, disebut BIPA: Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing.

Selain Koko Jerry, pertanyaan dan pendapat juga diajukan oleh Taria dari Radio Volare, Rendra dari Kantor Berita Antara, Lisa Saragih yang mewakili blogger dari Ketapang, Ayu dari Radio Mujahidin Pontianak, Poltak Nainggolan dari Radio Volare, Caca dari Radio Primadona, Hendri Kusnandar yang katanya mewakili diri sendiri, tidak dari media manapun. 

Para peserta yang antusias

Sebetulnya hampir seluruh peserta ingin mengajukan pertanyaan. Namun karena keterbatasan waktu, maka saya minta para peserta untuk menyimpan pertanyaan-pertanyaan mereka. Bukan disimpan begitu saja tanpa dikasi jawaban. Disimpan untuk dipertanyakan lagi pada program AKSARA (AKu SukA meRangkai kAta) yang disiarkan tiap Kamis pukul 4 sore di Radio Volare. Bisa langsung ditanyakan pada penyiarnya, kak Hani honeylizious dan narasumber dari Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Dari sarasehan bahasa yang berlangsung selama 3 jam itu, ini dia beberapa padanan kata yang saya catat:

Kosakata
Padanan dalam Bahasa Indonesia
Convention Center
Laundry
Online
Offline
Mouse
Listing
Entry
Microphone
Upload
Download
Berterima
Lotion
Snack
Balai Sidang
Binatu
Daring (Dalam Jaringan)
Luring (Luar Jaringan)
Tetikus (bukan mouse yang binatang J)
Pencatatan
Lema
Pelantang
Unggah
Unduh
Bisa diterima
Calir
Kudapan


Masih banyak lagi padanan kata yang belum saya ketahui, tapi bisa dipelajari. Alhamdulillah, semua peserta mendapat buku pedoman dari Balai Bahasa. Dalam buku ini, ada lebih banyak padanan kata dalam Bahasa Indonesia yang tak rugi kalau kita tau :D

Hadiah Ikhlas dari Balai Bahasa

Baiklah, semoga yang sedikit ini memberikan manfaat, membuat kita mampu berbahasa Indonesia dengan baik, dan semakin cinta dengan Bahasa Indonesia, bahasa negara kita. 

Mampu berbahasa Indonesia dan mencintai Bahasa Indonesia tidak = Anti bahasa asing kan? :)


*Beberapa foto dari ponselnya Mbak Temi :D

Posted in , , , | Leave a comment

Sarasehan Bahasa bagian 2

Mari melanjutkan tulisan Sarasehan Bahasa dengan tema: "Salah Kaprah Istilah di Media, Jangan Lagi!" yang diadakan oleh Radio Volare bekerja sama dengan Balai Bahasa Kalimantan Barat. 

Setelah Ibu Evi menyampaikan materi tentang Sudah terlalu miskinkah Bahasa Indonesia?, pembicara kedua, yaitu Bapak Hizbul Maududi, S.S yang juga peneliti dari Balai Bahasa Kalimantan Barat menyampaikan tentang Undang-Undang Bahasa. Edisi lengkapnya boleh diunduh di webnya pusat bahasa.

Saya - Kak Lubna - Ibu Evi - Pak Hizbul

Selagi Pak Hizbul menyampaikan materi, saya yang duduk di depan sebagai moderator sempat dibisiki sama Kak Syarifah Lubna yang duduk di sebelah saya. Kata Kak Lubna, "Nanti akan ada polisi bahasa dari Balai Bahasa loh, Din. Jadi, yang melanggar UU Bahasa ini bisa kena denda". Wooow.

Tapi jangan lantas membayangkan polisi bahasa ini berseragam sebagaimana polisi pada umumnya. Judulnya sih iya polisi. Namun kata bu Evi, bukan mentang-mentang polisi lantas menangkap atau memberi sanksi semudah itu. Polisi bahasa ini lebih enak kalau disebut 'Pengawas Bahasa'. Begitu.

Selesai pak Hizbul menyampaikan Undang-Undang Bahasa, materi dilanjutkan oleh Kak Lubna sebagai pembicara ketiga. Judul materi yang disampaikan oleh Kak Lubna sangat menarik perhatian saya: Campur Kode. Saya suka materi ini karena mengingatkan saya pada penelitian untuk skripsi saya :D

Dalam penjelasannya, Kak Lubna mengatakan bahwa campur kode atau code mixing itu umumnya:

1. Terjadi pada ragam santai dan informal. 

Misalnya saat ngobrol dengan teman, sering kan ya kita melakukan campur kode. Waktu menulis di blog juga, waduh kalo yang ini sih saya sering sekali hihihi.

2. Lumrah bagi penutur multi bahasa

Errr, Cinta Laura misalnya? Contoh wawancara dengan Cinta Laura bisa dibaca di tulisan Tribute to Cinta. :)))

3. Kurang menguasai bahasa kedua atau karena sudah kebiasaan.

Ini biasanya terjadi pada bule yang baru belajar Bahasa Indonesia. Bisa juga terjadi pada pribumi yang sedang berlatih menggunakan Bahasa Inggris. Atau, mungkin pula terjadi pada kita yang memang terbiasa mencampur kode ketika menyusun kalimat.

Pada dasarnya, campur kode ini tidak merusak makna bahasa itu sendiri. Hanya saja, kalau bahasa asing saja bisa kita gunakan dengan baik, lantas kenapa tidak dengan Bahasa Indonesia? Demikian ujar Kak Lubna.

Selain itu, jika dalam mencampurkan bahasa ternyata kita membuat kekeliruan, itu namanya sudah bukan campur kode lagi loh, melainkan interferensi. D sela-sela penyampaian materi, saya sempat bertanya ke Ibu Evi, bagaimana membedakan campur kode dan interferensi karena contoh yang diberikan cukup mirip. Jadi, menurut Ibu Evi, interferensi itu cenderung bersifat merusak makna bahasa, sedangkan campur kode tidak demikian.

Contoh interferensi:

  1. "Aku lagi boring niiih. Jalan yuk.."
  2. "Kamu bisa Bahasa Inggris?" | "Little little sih I can"
  3. "Istirahat nanti kita makan snek yuk.
  4. "Kalau bisa sih jangan via telpon, pes to pes saja"
PEMBAHASAN

  1. Kata "boring" pada kalimat diatas jelas sudah diartikan dengan keliru. Si pembicara pastilah bermaksud mengatakan: "Aku lagi bosan". Sedangkan 'boring' artinya bukan bosan, melainkan membosankan.
  2. Little little sih I can, maksudnya bisa sedikit-sedikit ._.
  3. Snek, maksudnya snack. Dulu, padanan kata dari snack adalah umpan tekak. Namun, karena kurang bisa diterima di masyarakat, oleh Pusat Bahasa diganti menjadi kudapan.
  4. Pes to pes, maksudnya face to face, tatap muka.


Bisa dibedakan ya antara interferensi dan campur kode? Sip deh. Kalau masih kurang, bisa dibaca beberapa contoh lainnya di tumblr saya :D

Selain yang 2 itu, ada juga yang disebut sebagai alih kode atau code switching. Kalau campur kode dan interferensi mencampurkan 2 kata dalam bahasa berbeda, alih kode *sesuai namanya* adalah pengalihan dari bahasa pertama ke bahasa kedua.

Misalnya ketika Kang Asep lagi ngobrol dalam Bahasa Indonesia sama Mr. Syahrir, kemudian selagi kedua orang ini bercakap-cakap, datang Mr. Kevin yang adalah orang Australia. Kang Asep pun lantas melakukan alih kode dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris untuk menyapa atau menjawab sapaan Mr. Kevin. Kalau dibuat contoh transkrip percakapannya kurang lebih jadi seperti ini:

Kang Asep: "Kemarin saya sudah coba Nasi Djinggo yang di perempatan Ubud, rasanya lumayan enak loh"
Mr. Syahrir: "Oh ya? Saya belum coba. Nanti sore ajak saya ke sana ya"
(Mr. Kevin datang)
Mr. Kevin: "Hello Mr. Asep and Mr. Syahrir. How're you doing today?"
Kang Asep: "Hello, sir. I'm good. What about you?"

Begitu :D

Besok Insya Allah dilanjut lagi yah. Saya akan bagikan beberapa padanan kata dalam Bahasa Indonesia serta sebagian sesi diskusi dan tanya jawab dengan peserta sarasehan. See you tomorrow. Stay tuned.

*Berasa siaran deh ah :p*

Posted in , , , | Leave a comment

Sarasehan Bahasa bagian 1


Tulisan diambil dari blog Dini

Saya takjub dan terkejut mengetahui bahwasanya barang yang biasa saya sebut sebagai mic memiliki padanan kata: PELANTANG. Lebih kaget lagi waktu diberi tahu: Calir adalah padanan kata dari Handbody Lotion. Subhanallaah. Rupanya masih banyak kosakata Bahasa Indonesia yang belum saya ketahui!

Ilmu tersebut saya dapatkan setelah mengikuti Sarasehan Bahasa yang diadakan oleh Radio Volare. Ini dia Undangannya.


Pas sekali acara ini diadakan pada 24 Maret, ketika saya yang waktu itu sedang di Pontianak memang belum punya agenda mau kemana-mana. Berhubung pesertanya terbatas, maka saya pun menghubungi nomor telepon atas nama Hani yang tertera pada adlibs yang saya bacakan saat siaran. Rupanya, Hani yang dimaksud adalah Kak Hani 'honeylizious' Rohani Syawaliah :D

Tapi, di acara kemarin saya tak sekedar menjadi peserta. Alhamdulillaah ditawari untuk menjadi moderator pula sama Mbak Temi. Haseeek.

Oke, mari memulai sarasehan bahasa yang terselenggara masih dalam rangka HUT Volare ke-39 ini.

Pembicara pertama pada sarasehan ini adalah Ibu Evi Novianti, M.Hum yang menyampaikan materi berjudul "Sudah terlalu miskinkah Bahasa Indonesia?". 

Kalimat tanya tersebut menjadi materi pertama dalam rangka melihat banyaknya orang Indonesia yang memilih untuk gunakan bahasa asing. Baik dalam penggunaan nama toko, pemakaian dalam media *yang menjadi tema utama dari pelaksanaan sarasehan ini*, serta dalam penggunaan sehari-hari. 

Coba deh teman-teman perhatikan toko dan gerai di sekitar tempat tinggal masing-masing. Mudah sekali kita temukan tulisan-tulisan di plang nama toko seperti: Dini Cyber, Cozy Boutique, atau Terima Service HP.   Mengapa harus gunakan Bahasa Inggris? Apakah salah kalau diganti dengan Warnet Dini, misalnya? Yaa, kan supaya keren gitu. Hmmm, baiklaaah.

Kalau penggunaannya tepat sih tiada mengapa ya. Kalau kemudian maksudnya supaya keren tapi jadinya malah hancurrr seperti tulisan dikompasiana ini, jadinya kan malah lucu dan memalukan hihihi.

Bahasa asing memang diperlukan dalam pergaulan internasional. Namun, penggunaannya harus sesuai dengan ranahnya. Artinya, boleh saja gunakan bahasa asing asalkan perhatikan waktu dan tempat. Begitu kata Ibu Evi di Sabtu sore yang sejuk itu.

Mencintai Bahasa Indonesia bukan berarti alergi atau anti dengan bahasa asing. 

Saya berhasil mencatat beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi cenderung gunakan bahasa asing. 

1. Cara pandang yang salah

Dalam hal ini, banyak orang yang menganggap bahwa segala hal yang berasal dari luar negeri itu bergengsi. Milik sendiri sih kampungan, tidak keren. Lagipula, nama usaha dengan kosakata asing pasti jauh lebih menarik. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Coba kita lihat orang Jepang. Mereka bangga loh gunakan bahasa mereka sendiri sebagai nama produk buatan mereka. Tetap keren dan tetap laris juga kan :)

2. Beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Semakin berkembangnya teknologi membuat istilah-istilah asing jadi lebih mudah untuk masuk ke para pengguna bahasa. Semakin mudah deh jadinya kita terpengaruh dan menganggap bahwa bahasa asing tersebut adalah bagian dari bahasa kita. Seperti 2 kata yang saya sebutkan di awal: mic dan lotion. Padanan kata Bahasa Indonesianya yang justru terdengar asing ya di telinga kita ._.

3. Sikap positif terhadap Bahasa Indonesia masih rendah

Menurut Ibu Evi, ada 3 tolak ukur sikap positif kita terhadap Bahasa Indonesia: Bangga akan Bahasa Indonesia, Setia dengan Bahasa Indonesia, dan sadar untuk dengan kaidah Bahasa Indonesia. 

Nah, bagaimana? Sudah seberapa besar sikap positif kita terhadap Bahasa Indonesia?

Lokasi: Pontianak, Indonesia
Posted in , , , | Leave a comment

Tips 3/3: Merawat buku





Banyak yang mengeluh bahwa buku koleksinya mulai rusak. Merawat buku bukanlah hal yang sulit, namun seringkali orang malas  atau tidak tahu cara merawatnya, padahal buku yang dibelinya itu tidak murah loh. Nah, gimana sih cara merawat buku yang kita punya? Ini ada beberapa tips buat Bujang Dare yang ingin merawat buku:
  1. Disampul. Menyampul buku itu tidak sulit. Dengan menyampul buku, buku kita jadi terlihat bersih walaupun sudah lama. sebelum menyampul buku carilah plastik yang agak tebal dan tidak lengket untuk sampul buku, Usahakan pakai plastik bening agar cover bukunya terlihat. Yang perlu diperhatikan adalah pada saat menyampul buku jangan terlalu ketat, karena  bisa membuat bagian cover buku terlipat jika sering dibuka. Nanti ketika sampul tersebut sudah sedikit rusak, bisa ganti dengan sampul baru.
  2. Dibersihkan. Buku kalau kelamaan disimpan dan dipajang pasti berdebu kan? Biar nggak berdebu ya harus dibersihkan. Membersihkan buku gampang kok, Bisa dengan kain bersih dan kering, lap basah juga boleh untuk buku yang bersampul plastik (umumnya hardcover).
  3. Diberi kapur barus (kamper) dan lampu. Bahan baku kertas berasal dari kayu, bisa mengundang rayap menggerogoti buku-buku kita. Umumnya buku-buku baru tidak dirayapi karena beberapa sudah diberi zat-zat kimia untuk bahan baku daur ulang kertas. Juga material plastik dalam pembuatan kertas licin. Namun untuk buku-buku yang masih menggunakan kertas asli umumnya masih bisa dirusak rayap. Maka dari itu rak buku boleh ditaburi kapus barus yang dihancurkan atau bubuk cengkeh agar buku kita terjaga dari rayap. Atau tidak ada salahnya memberi lampu khusus dalam lemari buku, sinar lampu menghambat ngengat masuk ke sela-sela buku.

Berikut ini 3 hal yang tidak dianjurkan ketika Bujang Dare merawat koleksi buku kesayangan:
  1. Dilipat. Melipat buku bisa merusak kertas. Gunakan pembatas buku jika ingin menandai buku. Pembatas buku tidak harus dengan sesuatu yang mahal dan cantik. Kita bisa gunakan selembar daun, uang atau kartu nama untuk membatasi buku kita. Yang paling fatal jika kita menandai buku dengan benda tebal seperti pulpen atau lainnya karena bisa merusak Jilid.
  2. Disusun ditumpuk. Simpan buku dengan cara disusun berdiri, jangan pernah dengan cara menumpuk karena bisa merusak jilid buku dan sampulnya. Posisi buku yang bertumpuk dikhawatirkan udara tidak bisa masuk dan mempercepat kelembaban. Gunakan pembatas rak agar buku yang kita susun berdiri tegak. Susunlah buku berdasarkan klasifikasinya agar mudah untuk dicari. Pengecualian untuk buklet boleh disimpan dengan cara ditumpuk.
  3. Ruang penyimpanan yang gelap dan panas. Ruang penyimpanan buku harus tetap terang selama 24 jam agar kecoak dan binatang perusak buku lainnya tidak berkeliaran menuju rak buku. Di ruangan gelap binatang mudah sekali menuju rak buku dan membuat sarang. Menyimpan buku juga tidak boleh dalam ruangan yang terlalu panas. Sinar matahari membuat huruf-huruf pada buku cepat memudar dan membuat kertas kekuning-kuningan, akhirnya keropos dan mudah sobek.

Itu dia ya Bujang Dare, tips “3 atau 3” hari ini mengenai perawatan buku. Semoga buku koleksi Bujang Dare tetap terawat. Selamat mencoba!



Simak Kericau Pagi di Radio Volare Pontianak, FM 103.4, dari Senin-Jumat, pukul 06.30-07.00 bersama @febiresi


Posted in , | 1 Comment

Tips 3/3: Memutihkan gigi




Memiliki senyum yang indah, memberikan dampak percaya diri bagi Bujang Dare, dan lebih baik lagi jika Bujang Dare memiliki gigi yang putih. Berikut ini Febi berikan 3 tips efektif untuk memutihkan gigi. Ini dia:

  1. Sikat gigi teratur 2 kali sehari. Walaupun cukup jelas, terkadang banyak orang mengabaikan. Padahal sebenarnya mudah, Bujang Dare hanya perlu menyikat gigi dua kali sehari. Menyikat gigi dapat mencegah penumpukan plak dalam mulut Bujang Dare, yang pada gilirannya akan mencegah noda kuning pada gigi.
  2. Sikat gigi dengan baking soda. Pemutihan gigi di rumah sama sekali tidak sulit, tidak perlu menghabiskan uang atau membayar kunjungan ke dokter gigi untuk menjadikan gigi Bujang Dare lebih putih. Baking soda bisa menjadi pilihan. Cukup memercikkan sedikit baking soda ke sikat gigi dan membersihkan gigi secara menyeluruh. Segera, gigi Bujang Dare menjadi beberapa warna lebih putih. 
  3. Gunakan jus lemon dan garam atau buah stroberi. Cara lain untuk membersihkan noda kuning cara alami adalah dengan mencampurkan satu sendok makan jus lemon dengan satu sendok kecil garam. Cukup campurkan bahan ini dan gosokkan di gigi dengan menggunakan sikat gigi. Noda dengan cepat akan menghilang. Bisa juga dengan buah  stroberi, caranya gigit  stroberi dan biarkan selama lima menit. Stroberi mengandung deterjen ringan untuk membersihkan noda. Bisa juga dengan dihancurkan dan campur dengan pasta gigi untuk menyikat gigi.

Berikut ini, 3 hal yang tidak dianjurkan ketika Bujang Dare ingin memiliki gigi yang putih:
  1. Kebiasaan merokok. Nikotin membawa pengaruh yang sangat buruk bagi gigi. Hampir semua perokok tidak memiliki gigi yang putih. Rata-rata dari mereka memiliki gigi yang kecokelatan bahkan mulai rontok. Ternyata nikotin pada rokok tak hanya jahat pada kesehatan jantung dan paru-paru saja, efek yang ditimbulkan pada gigi juga sangat buruk. Sepertinya mulailah untuk berhenti merokok jika ingin memiliki tubuh dan gigi yang sehat serta putih cemerlang.
  2. Kebiasaan makan yang buruk. Beberapa makanan berwarna dapat membuat gigi menjadi kuning dan gelap. Misalnya kopi, teh, soda, wortel, jeruk dan makanan yang mengandung warna lainnya. Makanan yang mengandung pewarna itu, jika dikonsumsi terus menerus akan membuat gigi tidak putih lagi. Terlebih asam yang terkandung dalam buah-buahan yang asam akan memicu munculnya warna kuning dari gigi.
  3. Membuka kemasan dengan gigi. Saking kuatnya gigi dan tak menemukan gunting, maka biasanya Bujang Dare membuka kemasan dengan gigi. STOP kebiasaan ini! Tanpa Bujang Dare sadari kebiasaan ini akan membuat gigi lebih mudah rapuh dan lemah. Ketika gigi rapuh, secara otomatis warnanya tidak akan sehat dan cenderung menguning.

Itu dia ya Bujang Dare, tips “3 atau 3” hari ini mengenai gigi yang putih. Semoga memberi manfaat untuk Bujang Dare. Selamat mencoba!



Simak Kericau Pagi di Radio Volare Pontianak, FM 103.4, dari Senin-Jumat, pukul 06.30-07.00 bersama @febiresi


Posted in , | Leave a comment
Radio Volare. Powered by Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.